Senin, 03 Desember 2012

Penanaman Nilai dan Norma sebagai Pembentuk Karakter Anak Tingkat Sekolah Dasar


BAB I
PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG MASALAH
Kandungan substansi yang tertuang dalam ketentuan pasal 1 ayat 1 UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyebutkan dengan jelas bahwa penyelenggaraan pendidikan nasional didasarkan pada orientasi dimensi nilai spiritual keagamaan, akar budaya nasional, responsif terhadap tuntutan dan tantangan perubahan jaman yang berkembang demikian cepat. Ketentuan lain yang terdapat dalam Bab II Pasal 3 menyebutkan pula bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Kebutuhan akan penanaman pendidikan nilai mulai nampak dan dirasakan penting setelah maraknya berbagai bentuk penyimpangan asusila, amoral di tengah masyarakat. Hampir setiap hari ada saja pemberitaan di media cetak dan elektronik tentang pembunuhan, pemerkosan, seks bebas di luar nikah, aborsi, peredaran dan pemakaian narkoba, bahkan pernah dilansir kasus pemerasan yang dilakukan geng anak usia sekolah dasar (SD). Tentu hal ini membuat gelisah dan cemas terutama akan dirasakan oleh para orangtua termasuk pihak lembaga sekolah yang mengemban tugas melakukan untuk mendidik, melatih dan membimbing anak didiknya. Ini persoalan serius dan perlu mendapat perhatian ekstra khususnya bagi pelaku-pelaku dunia pendidikan.  
Lembaga pendidikan Sekolah Dasar merupakan wadah yang penting bagi pembentukan anak secara mendasar. Anak – anak Sekolah Dasar sedang mengalami tahap perkembangan kecerdasan yang pesat dan perkembangan konsep diri yang imitasi, artinya mereka mulai meniru segenap perbuatan yang ada di lingkungan mereka yang mereka bisa dilakukan tanpa mengetahui intensitas perbuatan baik atau buruknya kondisi yang mereka tiru. Jadi apapun yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka rasakan dapat seketika masuk dalam memori mereka kemudian ketika menemui kondisi yang sama akan mereka aplikasikan sesuai dengan keinginan mereka.
Pada dasarnya pembentukan anak secara mendasar tergantung kepada orang – orang yang membentuknya dan situasi lingkungan yang mendukungnya. Anak yang hidup pada kondisi lingkungan yang membentuk kepribadian baik tentu akan menjadi baik selama belum terkontaminasi dengan hal – hal yang buruk, begitu juga sebaliknya ketika anak hidup pada kondisi lingkungan yang buruk tentu akan terbentuk kepribadian yang buruk selama belum terkontaminasi dengan hal – hal yang baik yang bisa mengubah.
Pranata yang dapat membentuk kepribadian anak dalam usia 7 – 12 tahun adalah keluarga, masyarakat (teman sebaya), sekolah, serta fasilitas di lingkungan mereka, keempat pranata tersebut disebut faktor eksternal. Faktor internalnya yaitu bawaan dari anak itu sendiri yaitu pewarisan sifat dari kedua orang tua mereka. Dalam hal ini sekolah memiliki peran untuk membentuk kepribadian yang positif karena pranata yang lain seperi keluarga, masyarakat, serta fasilitas yang ada di lingkungannya belum tentu membentuk kepribadian yang positif bagi mereka atau malah justru membentuk kepribadian yang negatif.

I.2. RUMUSAN MASALAH
  1. Nilai dan norma karakter pokok dan utama apa saja yang harus ditanamkan sebagai pembentuk karakter anak tingkat sekolah dasar?
  2. Bagaimana cara menanamkan nilai dan norma sebagai pembentuk karakter anak tingkat sekolah dasar?
  3. Bagaimana  peran orang tua maupun guru dalam pembentukan karakter anak tingkat sekolah dasar?

I.3. TUJUAN DAN MANFAAT MAKALAH
  1. TUJUAN MAKALAH
1.      Untuk mengetahui nilai dan norma yang harus ditanamkan sebagai pembentuk karakter anak tingkat sekolah dasar.
2.      Untuk mengetahui cara menanamkan nilai dan norma sebagai pembentuk karakter anak tingkat sekolah dasar.
3.      Untuk mengetahui peran orang tua maupun guru dalam pembentukan karakter anak tingkat sekolah dasar.
4.      Untuk mengetahui apa itu nilai dan norma.
5.      Untuk mengetahui bagaimana karakter anak usia SD.

  1. MANFAAT MAKALAH
1.      Makalah ini diharapkan dapat menjadi suatu bahan kajian.
2.      Makalah ini diharapkan menjadi sumbangan pemikiran untuk masyarakat pada umumnya dan penulis sendiri pada khususnya.
3.      Makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan pembaca.
4.      Makalah ini diharapkan bermanfaat untuk teman sesama mahasiswa.
5.      Makalah ini diharapkan dapat membantu penanganan oleh orang tua terhadap anaknya terutama yang masih dalam usia SD.









BAB II
PEMBAHASAN

II.1. LANDASAN TEORI
  1. PENGERTIAN NILAI
Nilai atau value adalah salah satu bagian penting yang harusa turut terpetik dalam pemerolehan pengalaman hasil belajar anak disamping pengetahuan dan ketermpilan seturut usia perkembangannya.
Nilai adalah suatu yang berharga., berguna, indah, memperkaya batin, dan menyadarkan manusia akan harkat dan martabatnya.
Nilai berkaitan dengan bidang normatif bukan kognitif, atau berada dalam tataran dunia ideal bukan dunia real.
Nilai bagi manusia dipakai dan diperlukan untuk menjadi landasan alasan, motivasi dalam segala sikap, tingkah laku dan perbuatannya.
Fraenkel (1977:6) menjelasakan pengertian nilai sebagai: ”A value is an idea--a concept--  about what someone think is important in life”. Menurutnya, nilai adalah suatu ide atau konsep tentang apakah ayanga penting bagi kehidupan seseorang.

  1. PENGERTIAN NORMA
Norma adalah aturan yang berlaku di kehidupan bermasyarakat. Aturan yang bertujuan untuk mencapai kehidupan masyarakat yang aman, tertib dan sentosa. Namun masih ada segelintir orang yang masih melanggar norma-norma dalam masyarakat, itu dikarenakan beberapa faktor, diantaranya adalah faktor pendidikan, ekonomi dan lain-lain.
Dari segi bahasa Norma berasal dari bahasa inggris yakni norm. Dalam kamus oxford “norm is usual or expected way of behaving” yaitu norma umum yang berisi bagaimana cara berprilaku.
Norma adalah patokan prilaku dalam satu kelompok tertentu, norma memungkinkan sesorang untuk menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakannya itu akan dinilai oleh orang lain, norma juga merupakan kriteria bagi orang lain untuk mendukung atau menolak prilaku seseorang.
Norma juga merupakan sesuatu yang mengikat dalam sebuah kelompok masyarakat, yang pada keselanjutannya disebut norma sosial, karena menjaga hubungan dalam bermasyarakat. Norma pada dasarnya adalah bagian dari kebudayaan, karena awal dari sebuah budaya itu sendiri adalah intraksi antara manusia pada kelompok tertentu yang nantinya akan menghasilkan sesuatu yang disebut norma.
Adapula yang mengartikan norma sebagai nilai karena norma merupakan konkretasi dari nilai. Norma adalah perwujudan dari nilai karena setiap norma pasti terkandung nilai di dalamnya, nilai sekaligus menjadi sumber bagi norma. Tanpa ada nilai tidak mungkin terwujud norma.
Norma dibentuk oleh kesepakatan atas keyakinan yang mengikatnya, yang berfungsi menjadi pedoman ekspresi nilai dan aktualisasi moral masyarakat di dalam sebuah lingkungan budaya pendukungnya.

  1.  PERBEDAAN NILAI DAN NORMA
Nilai adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk.Sedangkan norma adalah ukuran kongkrit yang digunakan masyarakat untuk menilai apakah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang merupakan tindakan yang wajar dan dapat diterima atau tindakan yang menyimpang.
Pelanggaran terhadap nilai hanya akan menimbulkan gejolak dalam diri individu, sementara pelanggaran terhadap norma akan menimbulkan reaksi dari lingkungan berupa sanksi-sanksi sosial.

  1.  PENGERTIAN KARAKTER
Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu.
Dilihat dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan.

II.2. NILAI DAN NORMA YANG DITANAMKAN SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER ANAK TINGKAT SEKOLAH DASAR
  1. NILAI
Dimensi nilai yang terkandung mengajarkan anak didik untuk mengembangkan sikap toleran, empati, bertanggungjawab dalam menggunakan hak dan kewajiban. Nursid Sumaatmadja (2005) mengemukakan bahwa nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam IPS meliputi: nilai edukatif, nilai praktis, nilai teoritis, nilai filsafat dan nilai ketuhanan. Lebih rinci, dijelaskan sebagai berikut.
1. Nilai edukatif, melalui pendidikan kewarganegaraan, perasaan, kesadaran, penghayatan, sikap, kepeduliaan, dan tanggung jawab sosial peserta didik ditingkatkan. Kepeduliaan dan tanggungjawab sosial, secara nyata dikembangkan dalam pendidikan kewarganegaraan untuk mengubah perilaku peserta didik bekerja sama, gotong royong dan membantu pihak-pihak yang membutuhkan.
2. Nilai praktis, dalam hal ini tentunya harus disesuaikan dengan tingkat umur dan kegiatan peserta didik sehari-hari. Pengetahuan IPS (termasuk pendidikan kewarganegaraan) yang praktis tersebut bermanfaat dalam mengikuti berita, mendengakan radio, membaca majalah, menghadapi permasalahan kehidupan sehari-hari.
3.  Nilai teoritis, peserta didik dibina dan dikembangkan kemampuan nalarnya kearah dorongan mengetahui kenyataan (sense of reality), dan dorongan menggali sendiri dil apangan (sense or discovery). Kemamuan menyelidiki, meneliti dengan mengajukan berbagai pernyataan (sense of inquiry).
4. Nilai filsafat, peserta didik dikembangkan kesadaran dan penghayatan terhadap keberadaanya di tengah-tengah masyarakat, bahkan ditengah-tengah alam raya ini. Dari kesadaran keberadaan tadi, mereka disadarkan pula tentang peranannya masing-masing terhasap masyarakat, bahkan terhadap lingkungan secara keseluruhan.
5. Nilai ketuhanan, menjadi landasan kita mendekatkan diri dan meningkatkan IMTAK kepada-Nya. Kekaguman kita selaku manusia kepada segala ciptaan-Nya, baik berupa fenomena fisik-alamiah maupun fenomena kehidupan.
  1. NORMA
1.      Norma Agama adalah suatu norma yang berdasarkan ajaran aqidah suatu agama. Norma ini bersifat mutlak yang mengharuskan ketaatan para penganutnya. Apabila seseorang tidak memiliki iman dan keyakinan yang kuat, orang tersebut cenderung melanggar norma-norma agama.
2.      Norma Kesusilaan, norma ini didasarkan pada hati nurani atau ahlak manusia.
3.      Norma Kesopanan adalah norma yang berpangkal dari aturan tingkah laku yang berlaku di masyrakat. Cara berpakaian dan bersikap adalah beberapa contoh dari norma kesopanan.
4.      Norma Kebiasaan (Habit), norma ini merupakan hasil dari perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Orang-orang yang tidak melakukan norma ini dianggap aneh oleh anggota masyarakat yang lain.
5.      Norma Hukum adalah himpunan petunjuk hidup atau perintah dan larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat (negara). Sangsi norma hukum bersifat mengikat dan memaksa.
Nilai dan norma diatas merupakan dasar pembentuk karakter anak tingkat Sekolah Dasar. Dengan penerapan nilai dan norma secara optimal pada anak tingkat Sekolah Dasar bertujuan untuk menjadikan anak tersebut berperilaku yang beradab sesuai nilai dan norma yang berlaku, serta dapat menjadi anak seperti harapan orang tua, masyarakat, dan negara.

II.3. CARA MENANAMKAN NILAI DAN NORMA SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER ANAK TINGKAT SEKOLAH DASAR
  1. MELALUI KELUARGA
Keluarga tidak hanya sebuah wadah tempat berkumpulnya ayah, ibu, dan anak. Sebuah keluarga sesungguhnya lebih dari itu. Keluarga merupakan tempat ternyaman bagi anak. Merupakan tempat awal untuk mengasah  kemampuan bersosialisasi mengaktualisasikan diri, berpendapat, hingga perilaku yang menyimpang.
Maka dari itu orang tua (ayah dan ibu) mempunyai peranan sebagai teladan pertama bagi pembentukan pribadi anak. Keyakinan-keyakinan, pemikiran dan perilaku ayah dan ibu dengan sendirinya memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap pemikiran dan perilaku anak karena kepribadian manusia muncul berupa lukisan-lukisan pada berbagai ragam situasi dan kondisi dalam lingkungan ayah dan ibu. Ayah dan ibu berperan sebagai faktor pelaksana dalam mewujudkan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan persepsi budaya sebuah masyarakat.
Secara rinci, setidaknya terdapat 10 cara yang dapat dilakukan orangtua untuk mendidik secara tepat dalam rangka mengembangkan karakter yang baik pada anak, yaitu:
1. meletakkan agenda pembentukan karakter anak sebagai prioritas utama;
2. memikirkan jumlah waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anak;
3. memberikan tauladan yang baik;
4. menyeleksi berbagai informasi dari media yang digunakan anak;
5. menggunakan bahasa yang jelas dan lugas tentang perilaku yang baik dan buruk, perbuatan yang boleh dan tidak boleh;
6. memberikan hukuman dengan kasih sayang;
7. belajar mendengarkan anak;
8. terlibat dengan kehidupan sekolah anak;
9. selalu makan bersama, setidaknya sekali dalam sehari; dan
10. tidak mendidik hanya dengan kata-kata.
  1. MELALUI PENDIDIKAN NILAI
Pendidikan Nilai pada hakekatnya telah dimulai lebih awal di dalam dan oleh keluarga tetapi dalam hubungan dengan pertumbuhan minat dan perkembangan kegiatan belajar anak usia sekolah dasar khususnya, kedudukan sekolah tengah menggeser  fungsi dan peran utama keluarga; setidaknya dalam fokus perhatian anak. Selain itu dalam rangka pengembangan kurikulum pendidikan dalam format sekolah kedudukan penting pendidikan keluarga menjadi sekunder tempatnya. Karena itu, menempatkan fokus pertama pada substansi lingkungan sekolah sebagai sumber belajar anak menjadi kepentingan guru sekolah dasar.

II.4. PERAN ORANG TUA MAUPUN GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK TINGKAT SEKOLAH DASAR
  1. PERAN ORANG TUA
Baik dan buruknya moral anak tergantung bagaimana orang tua mendidik anak tersebut. Dalam hal ini bila mana sianak tumbuh menjadi manusia yang tidak bermoral maka semua itu dikarenakan kelemahan orang tua dalam mendidik anak. Sebaliknya bila anak tumbuh menjadi manusia yang berbudi semua dikarnakan peran serta orang tua sebagai penempah yang bijak. Interaksi anak diluar lingkungan keluarga sangat mempengaruhi perilaku dan moralnya misalnya disekolah, anak tersebut akan bergaul dan berinteraksi dengan berbagai macam perilaku dan jiwa yang berbeda-beda namun semua hal ini dapat dihindari apabila pondasi yang dibangun orang tua telah kokoh dan matang diterima anak, godaan sebesar apapun yang datang tidak akan mempengaruhi moral anak (Azmi, 2006).
Orang tua dalam pendidikan mempunyai peranan besar terhadap masa depan anak. Sehingga demi mendapatkan pendidikan yang terbaik, maka sebagai orang tua harus berusaha untuk dapat menyekolahkan anak sampai ke jenjang pendidikan yang paling tinggi adalah salah satu cara agar anak mampu mandiri secara finansial nantinya. Sebagai orang tua harus sedini mungkin merencanakan masa depan anak-anak agar mereka tidak merana. Masa anak-anak merupakan masa transisi dan kelanjutan dalam menuju tingkat kematangan sebagai persiapan untuk mencapai keremajaan.
  1. PERAN GURU
Sekolah merupakan agen sosialisasi di dalam sistem pendidikan formal. Di sekolah seseorang mempelajari hal-hal baru yang belum dipelajarinya dalam keluarga ataupun kelompok bermain. Pendidikan formal disekolah mempersiapkan anak didik/siswa agar dapat menguasai peranan-peranan baru pada kemudian hari manakala ia tidak tergantung lagi pada orang tua.
Peran guru pendidikan moral harus memiliki jiwa kepekaan terhadap anak dan tahu kondisi-kondisi apa yang sedang anak alami di dalam kehidupan sehari -hari. Guru pendidikan moral juga harus memiliki hubungan baik dengan orang tua murid masing – masing anak. Hal ini bertujuan membantu guru dalam mengawasi kondisi moral anak didiknya dan sekaligus membantu orang tua dalam mendidik dan mengawasi kegiatan anak sehari – hari.
Peranan guru dalam pengembangan pendidikan karakter di sekolah yang berkedudukan sebagai katalisator atau teladan, inspirator, motivator, dinamisator, dan evaluator. Dalam berperan sebagai katalisator, maka keteladanan seorang guru merupakan faktor mutlak dalam pengembangan pendidikan karakter peserta didik yang efektif, karena kedudukannya sebagai figur atau idola yang digugu dan ditiru oleh peserta didik. Peran sebagai inspirator berarti seorang guru harus mampu membangkitkan semangat peserta didik untuk maju mengembangkan potensinya. Peran sebagai motivator, mengandung makna bahwa setiap guru harus mampu membangkitkan spirit, etos kerja dan potensi yang luar biasa pada diri peserta didik. Peran sebagai dinamisator, bermakna setiap guru memiliki kemampuan untuk mendorong peserta didik ke arah pencapaian tujuan dengan penuh kearifan, kesabaran, cekatan, cerdas dan menjunjung tinggi spiritualitas. Sedangkan peran guru sebagai evaluator, berarti setiap guru dituntut untuk mampu dan selalu mengevaluasi sikap atau prilaku diri, dan metode pembelajaran yang dipakai dalam pengembangan pendidikan karakter peserta didik, sehingga dapat diketahui tingkat efektivitas, efisiensi, dan produktivitas programnya.
BAB III
PENUTUP

III.1. KESIMPULAN
Penanaman nilai dan norma dapat dilakukan di dalam keluarga dalam hal ini peran orang tualah yang akan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter yang diinginkan. Selain keluarga, peran guru dalam lemaga formal juga cukup memiliki andil yang besar dalam pengembangan karakter anak tingkat sekolah dasar.
Dengan adanya kedekatan antara guru pendidikan moral dengan orangtua murid, orang tua murid akan termotivasi untuk menjadi orang tua yang mau memperhatikan perilaku moral anaknya, karena orang tua murid akan secara periodik ditanyai mengenai perkembangan perilaku anaknya sehari – hari, jadi orang tua akan dianggap berhasil turut mendidik anaknya ketika perilaku moral anak meningkat kearah yang lebih baik namun orang tua juga akan dianggap tidak berhasil turut mendidik anaknya ketika perilaku moral anak menurun. Oleh karena itu orang tua murid akan memberikan yang terbaik untuk mewujudkan perilaku moral yang baik untuk anaknya karena masing- masing orang tua murid tidak mau dianggap gagal mendidik anaknya.

III.2. SARAN
Penulis berharap makalah ini dapat memberikan pengetahuan bagi pembaca mengenai nilai dan norma sebagai pembemtuk karakter anak tingkat sekolah dasar. Dan demi penyempurnaan makalah, penulis membuka kritik yang konstruktif dari pembaca.





DAFTAR PUSTAKA

Drs. S. Ichas Hamid Al-Lamri, M. Pd. Dan Dra. Tuti Istianti Ichas, M. Pd. 2006. Pengembangan Pendidikan Nilai dalam Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Rukiyati, M. Hum., dkk. 2008. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: UNY Press.
Drs. Syahrial, M.A. 2002. Pendidikan Pancasila. Jakarta Barat: Ghalia Indonesia.
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20111013164638AAdCPwU diakses pada hari Selasa, 16 Oktober 2012 pada pukul 19.33
http://warokakmaly.blogspot.com/2011/06/pengertian-norma-dan-macamnya.html oleh warok akmaly diakses pada hari Selasa, 16 Oktober 2012 pada pukul 19.27
http://www.google.co.id/tanya/thread?tid=20a6543bc8a5b39a diakses pada hari Selasa, 16 Oktober 2012 pada pukul 19.24
http://www.google.co.id/tanya/thread?tid=20a6543bc8a5b39a diakses pada hari Selasa, 16 Oktober 2012 pada pukul 18.26