Friendship Unity and Nationalism
"Rak Buku"
Kamis, 04 April 2013
Senin, 03 Desember 2012
Penanaman Nilai dan Norma sebagai Pembentuk Karakter Anak Tingkat Sekolah Dasar
BAB
I
PENDAHULUAN
I.1. LATAR BELAKANG
MASALAH
Kandungan
substansi yang tertuang dalam ketentuan pasal 1 ayat 1 UU No. 20 Tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional menyebutkan dengan jelas bahwa
penyelenggaraan pendidikan nasional didasarkan pada orientasi dimensi nilai
spiritual keagamaan, akar budaya nasional, responsif terhadap tuntutan dan
tantangan perubahan jaman yang berkembang demikian cepat. Ketentuan lain yang
terdapat dalam Bab II Pasal 3 menyebutkan pula bahwa Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Kebutuhan
akan penanaman pendidikan nilai mulai nampak dan dirasakan penting setelah
maraknya berbagai bentuk penyimpangan asusila, amoral di tengah masyarakat.
Hampir setiap hari ada saja pemberitaan di media cetak dan elektronik tentang
pembunuhan, pemerkosan, seks bebas di luar nikah, aborsi, peredaran dan
pemakaian narkoba, bahkan pernah dilansir kasus pemerasan yang dilakukan geng anak
usia sekolah dasar (SD). Tentu hal ini membuat gelisah dan cemas terutama akan
dirasakan oleh para orangtua termasuk pihak lembaga sekolah yang mengemban
tugas melakukan untuk mendidik, melatih dan membimbing anak didiknya. Ini
persoalan serius dan perlu mendapat perhatian ekstra khususnya bagi
pelaku-pelaku dunia pendidikan.
Lembaga
pendidikan Sekolah Dasar merupakan wadah yang penting bagi pembentukan anak
secara mendasar. Anak – anak Sekolah Dasar sedang mengalami tahap perkembangan
kecerdasan yang pesat dan perkembangan konsep diri yang imitasi, artinya mereka
mulai meniru segenap perbuatan yang ada di lingkungan mereka yang mereka bisa
dilakukan tanpa mengetahui intensitas perbuatan baik atau buruknya kondisi yang
mereka tiru. Jadi apapun yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka rasakan
dapat seketika masuk dalam memori mereka kemudian ketika menemui kondisi yang
sama akan mereka aplikasikan sesuai dengan keinginan mereka.
Pada
dasarnya pembentukan anak secara mendasar tergantung kepada orang – orang yang
membentuknya dan situasi lingkungan yang mendukungnya. Anak yang hidup pada
kondisi lingkungan yang membentuk kepribadian baik tentu akan menjadi baik
selama belum terkontaminasi dengan hal – hal yang buruk, begitu juga sebaliknya
ketika anak hidup pada kondisi lingkungan yang buruk tentu akan terbentuk
kepribadian yang buruk selama belum terkontaminasi dengan hal – hal yang baik
yang bisa mengubah.
Pranata
yang dapat membentuk kepribadian anak dalam usia 7 – 12 tahun adalah keluarga,
masyarakat (teman sebaya), sekolah, serta fasilitas di lingkungan mereka,
keempat pranata tersebut disebut faktor eksternal. Faktor internalnya yaitu
bawaan dari anak itu sendiri yaitu pewarisan sifat dari kedua orang tua mereka.
Dalam hal ini sekolah memiliki peran untuk membentuk kepribadian yang positif
karena pranata yang lain seperi keluarga, masyarakat, serta fasilitas yang ada
di lingkungannya belum tentu membentuk kepribadian yang positif bagi mereka
atau malah justru membentuk kepribadian yang negatif.
I.2. RUMUSAN MASALAH
- Nilai dan norma karakter pokok dan utama apa saja yang harus ditanamkan sebagai pembentuk karakter anak tingkat sekolah dasar?
- Bagaimana cara menanamkan nilai dan norma sebagai pembentuk karakter anak tingkat sekolah dasar?
- Bagaimana peran orang tua maupun guru dalam pembentukan karakter anak tingkat sekolah dasar?
I.3. TUJUAN DAN MANFAAT
MAKALAH
- TUJUAN MAKALAH
1.
Untuk mengetahui nilai dan norma yang
harus ditanamkan sebagai pembentuk karakter anak tingkat sekolah dasar.
2.
Untuk mengetahui cara menanamkan nilai
dan norma sebagai pembentuk karakter anak tingkat sekolah dasar.
3.
Untuk mengetahui peran orang tua maupun
guru dalam pembentukan karakter anak tingkat sekolah dasar.
4.
Untuk mengetahui apa itu nilai dan
norma.
5.
Untuk mengetahui bagaimana karakter anak
usia SD.
- MANFAAT MAKALAH
1.
Makalah ini diharapkan dapat menjadi
suatu bahan kajian.
2.
Makalah ini diharapkan menjadi sumbangan
pemikiran untuk masyarakat pada umumnya dan penulis sendiri pada khususnya.
3.
Makalah ini diharapkan dapat menambah
pengetahuan pembaca.
4.
Makalah ini diharapkan bermanfaat untuk
teman sesama mahasiswa.
5.
Makalah ini diharapkan dapat membantu
penanganan oleh orang tua terhadap anaknya terutama yang masih dalam usia SD.
BAB
II
PEMBAHASAN
II.1. LANDASAN TEORI
- PENGERTIAN NILAI
Nilai
atau value adalah salah satu bagian penting yang harusa turut terpetik dalam
pemerolehan pengalaman hasil belajar anak disamping pengetahuan dan ketermpilan
seturut usia perkembangannya.
Nilai adalah suatu yang
berharga., berguna, indah, memperkaya batin, dan menyadarkan manusia akan
harkat dan martabatnya.
Nilai berkaitan dengan
bidang normatif bukan kognitif, atau berada dalam tataran dunia ideal bukan
dunia real.
Nilai bagi manusia
dipakai dan diperlukan untuk menjadi landasan alasan, motivasi dalam segala
sikap, tingkah laku dan perbuatannya.
Fraenkel (1977:6)
menjelasakan pengertian nilai sebagai: ”A
value is an idea--a concept-- about what
someone think is important in life”. Menurutnya, nilai adalah suatu ide
atau konsep tentang apakah ayanga penting bagi kehidupan seseorang.
- PENGERTIAN NORMA
Norma
adalah aturan yang berlaku di kehidupan bermasyarakat. Aturan yang bertujuan
untuk mencapai kehidupan masyarakat yang aman, tertib dan sentosa. Namun masih
ada segelintir orang yang masih melanggar norma-norma dalam masyarakat, itu
dikarenakan beberapa faktor, diantaranya adalah faktor pendidikan, ekonomi dan
lain-lain.
Dari
segi bahasa Norma berasal dari bahasa inggris yakni norm. Dalam kamus oxford “norm is usual or expected way of behaving”
yaitu norma umum yang berisi bagaimana cara berprilaku.
Norma
adalah patokan prilaku dalam satu kelompok tertentu, norma memungkinkan
sesorang untuk menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakannya itu akan
dinilai oleh orang lain, norma juga merupakan kriteria bagi orang lain untuk
mendukung atau menolak prilaku seseorang.
Norma
juga merupakan sesuatu yang mengikat dalam sebuah kelompok masyarakat, yang
pada keselanjutannya disebut norma sosial, karena menjaga hubungan dalam
bermasyarakat. Norma pada dasarnya adalah bagian dari kebudayaan, karena awal
dari sebuah budaya itu sendiri adalah intraksi antara manusia pada kelompok
tertentu yang nantinya akan menghasilkan sesuatu yang disebut norma.
Adapula
yang mengartikan norma sebagai nilai karena norma merupakan konkretasi dari
nilai. Norma adalah perwujudan dari nilai karena setiap norma pasti terkandung
nilai di dalamnya, nilai sekaligus menjadi sumber bagi norma. Tanpa ada nilai
tidak mungkin terwujud norma.
Norma
dibentuk oleh kesepakatan atas keyakinan yang mengikatnya, yang berfungsi
menjadi pedoman ekspresi nilai dan aktualisasi moral masyarakat di dalam sebuah
lingkungan budaya pendukungnya.
- PERBEDAAN NILAI DAN NORMA
Nilai
adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia, mengenai apa yang
dianggap baik dan apa yang dianggap buruk.Sedangkan norma adalah ukuran
kongkrit yang digunakan masyarakat untuk menilai apakah tindakan yang dilakukan
oleh seseorang atau sekelompok orang merupakan tindakan yang wajar dan dapat
diterima atau tindakan yang menyimpang.
Pelanggaran
terhadap nilai hanya akan menimbulkan gejolak dalam diri individu, sementara
pelanggaran terhadap norma akan menimbulkan reaksi dari lingkungan berupa
sanksi-sanksi sosial.
- PENGERTIAN KARAKTER
Menurut
bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli
psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang
mengarahkan tindakan seorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai
karakter seseorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana
individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu.
Dilihat
dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan
yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi
tanpa ada lagi pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan
kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan.
II.2. NILAI DAN NORMA
YANG DITANAMKAN SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER ANAK TINGKAT SEKOLAH DASAR
- NILAI
Dimensi
nilai yang terkandung mengajarkan anak didik untuk mengembangkan sikap toleran,
empati, bertanggungjawab dalam menggunakan hak dan kewajiban. Nursid
Sumaatmadja (2005) mengemukakan bahwa nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam
IPS meliputi: nilai edukatif, nilai praktis, nilai teoritis, nilai filsafat dan
nilai ketuhanan. Lebih rinci, dijelaskan sebagai berikut.
1.
Nilai edukatif, melalui pendidikan kewarganegaraan, perasaan, kesadaran,
penghayatan, sikap, kepeduliaan, dan tanggung jawab sosial peserta didik
ditingkatkan. Kepeduliaan dan tanggungjawab sosial, secara nyata dikembangkan
dalam pendidikan kewarganegaraan untuk mengubah perilaku peserta didik bekerja
sama, gotong royong dan membantu pihak-pihak yang membutuhkan.
2.
Nilai praktis, dalam hal ini tentunya harus disesuaikan dengan tingkat umur dan
kegiatan peserta didik sehari-hari. Pengetahuan IPS (termasuk pendidikan
kewarganegaraan) yang praktis tersebut bermanfaat dalam mengikuti berita,
mendengakan radio, membaca majalah, menghadapi permasalahan kehidupan
sehari-hari.
3.
Nilai teoritis, peserta didik dibina dan
dikembangkan kemampuan nalarnya kearah dorongan mengetahui kenyataan (sense of
reality), dan dorongan menggali sendiri dil apangan (sense or discovery).
Kemamuan menyelidiki, meneliti dengan mengajukan berbagai pernyataan (sense of inquiry).
4.
Nilai filsafat, peserta didik dikembangkan kesadaran dan penghayatan terhadap
keberadaanya di tengah-tengah masyarakat, bahkan ditengah-tengah alam raya ini.
Dari kesadaran keberadaan tadi, mereka disadarkan pula tentang peranannya
masing-masing terhasap masyarakat, bahkan terhadap lingkungan secara
keseluruhan.
5.
Nilai ketuhanan, menjadi landasan kita mendekatkan diri dan meningkatkan IMTAK
kepada-Nya. Kekaguman kita selaku manusia kepada segala ciptaan-Nya, baik
berupa fenomena fisik-alamiah maupun fenomena kehidupan.
- NORMA
1.
Norma Agama adalah suatu norma yang
berdasarkan ajaran aqidah suatu agama. Norma ini bersifat mutlak yang
mengharuskan ketaatan para penganutnya. Apabila seseorang tidak memiliki iman
dan keyakinan yang kuat, orang tersebut cenderung melanggar norma-norma agama.
2.
Norma Kesusilaan, norma ini didasarkan
pada hati nurani atau ahlak manusia.
3.
Norma Kesopanan adalah norma yang
berpangkal dari aturan tingkah laku yang berlaku di masyrakat. Cara berpakaian
dan bersikap adalah beberapa contoh dari norma kesopanan.
4.
Norma Kebiasaan (Habit), norma ini
merupakan hasil dari perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam
bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Orang-orang yang tidak melakukan
norma ini dianggap aneh oleh anggota masyarakat yang lain.
5.
Norma Hukum adalah himpunan petunjuk
hidup atau perintah dan larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu
masyarakat (negara). Sangsi norma hukum bersifat mengikat dan memaksa.
Nilai
dan norma diatas merupakan dasar pembentuk karakter anak tingkat Sekolah Dasar.
Dengan penerapan nilai dan norma secara optimal pada anak tingkat Sekolah Dasar
bertujuan untuk menjadikan anak tersebut berperilaku yang beradab sesuai nilai
dan norma yang berlaku, serta dapat menjadi anak seperti harapan orang tua,
masyarakat, dan negara.
II.3. CARA MENANAMKAN
NILAI DAN NORMA SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER ANAK TINGKAT SEKOLAH DASAR
- MELALUI KELUARGA
Keluarga tidak hanya sebuah wadah
tempat berkumpulnya ayah, ibu, dan anak. Sebuah keluarga sesungguhnya lebih dari
itu. Keluarga merupakan tempat ternyaman bagi anak. Merupakan tempat awal untuk
mengasah kemampuan bersosialisasi
mengaktualisasikan diri, berpendapat, hingga perilaku yang menyimpang.
Maka dari itu orang tua (ayah dan
ibu) mempunyai peranan sebagai teladan pertama bagi pembentukan pribadi anak.
Keyakinan-keyakinan, pemikiran dan perilaku ayah dan ibu dengan sendirinya
memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap pemikiran dan perilaku anak
karena kepribadian manusia muncul berupa lukisan-lukisan pada berbagai ragam
situasi dan kondisi dalam lingkungan ayah dan ibu. Ayah dan ibu berperan
sebagai faktor pelaksana dalam mewujudkan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan
persepsi budaya sebuah masyarakat.
Secara
rinci, setidaknya terdapat 10 cara yang dapat dilakukan orangtua untuk mendidik
secara tepat dalam rangka mengembangkan karakter yang baik pada anak, yaitu:
1.
meletakkan agenda pembentukan karakter anak sebagai prioritas utama;
2.
memikirkan jumlah waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anak;
3.
memberikan tauladan yang baik;
4.
menyeleksi berbagai informasi dari media yang digunakan anak;
5.
menggunakan bahasa yang jelas dan lugas tentang perilaku yang baik dan buruk,
perbuatan yang boleh dan tidak boleh;
6.
memberikan hukuman dengan kasih sayang;
7.
belajar mendengarkan anak;
8.
terlibat dengan kehidupan sekolah anak;
9.
selalu makan bersama, setidaknya sekali dalam sehari; dan
10.
tidak mendidik hanya dengan kata-kata.
- MELALUI PENDIDIKAN NILAI
Pendidikan
Nilai pada hakekatnya telah dimulai lebih awal di dalam dan oleh keluarga
tetapi dalam hubungan dengan pertumbuhan minat dan perkembangan kegiatan
belajar anak usia sekolah dasar khususnya, kedudukan sekolah tengah
menggeser fungsi dan peran utama
keluarga; setidaknya dalam fokus perhatian anak. Selain itu dalam rangka
pengembangan kurikulum pendidikan dalam format sekolah kedudukan penting
pendidikan keluarga menjadi sekunder tempatnya. Karena itu, menempatkan fokus
pertama pada substansi lingkungan sekolah sebagai sumber belajar anak menjadi kepentingan
guru sekolah dasar.
II.4. PERAN ORANG TUA
MAUPUN GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK TINGKAT SEKOLAH DASAR
- PERAN ORANG TUA
Baik dan buruknya moral anak
tergantung bagaimana orang tua mendidik anak tersebut. Dalam hal ini bila mana
sianak tumbuh menjadi manusia yang tidak bermoral maka semua itu dikarenakan
kelemahan orang tua dalam mendidik anak. Sebaliknya bila anak tumbuh menjadi
manusia yang berbudi semua dikarnakan peran serta orang tua sebagai penempah
yang bijak. Interaksi anak diluar lingkungan keluarga sangat mempengaruhi
perilaku dan moralnya misalnya disekolah, anak tersebut akan bergaul dan
berinteraksi dengan berbagai macam perilaku dan jiwa yang berbeda-beda namun
semua hal ini dapat dihindari apabila pondasi yang dibangun orang tua telah
kokoh dan matang diterima anak, godaan sebesar apapun yang datang tidak akan
mempengaruhi moral anak (Azmi, 2006).
Orang tua dalam pendidikan mempunyai
peranan besar terhadap masa depan anak. Sehingga demi mendapatkan pendidikan
yang terbaik, maka sebagai orang tua harus berusaha untuk dapat menyekolahkan
anak sampai ke jenjang pendidikan yang paling tinggi adalah salah satu cara
agar anak mampu mandiri secara finansial nantinya. Sebagai orang tua harus
sedini mungkin merencanakan masa depan anak-anak agar mereka tidak merana. Masa
anak-anak merupakan masa transisi dan kelanjutan dalam menuju tingkat
kematangan sebagai persiapan untuk mencapai keremajaan.
- PERAN GURU
Sekolah
merupakan agen sosialisasi di dalam sistem pendidikan formal. Di sekolah seseorang
mempelajari hal-hal baru yang belum dipelajarinya dalam keluarga ataupun
kelompok bermain. Pendidikan formal disekolah mempersiapkan anak didik/siswa
agar dapat menguasai peranan-peranan baru pada kemudian hari manakala ia tidak
tergantung lagi pada orang tua.
Peran
guru pendidikan moral harus memiliki jiwa kepekaan terhadap anak dan tahu
kondisi-kondisi apa yang sedang anak alami di dalam kehidupan sehari -hari. Guru
pendidikan moral juga harus memiliki hubungan baik dengan orang tua murid
masing – masing anak. Hal ini bertujuan membantu guru dalam mengawasi kondisi
moral anak didiknya dan sekaligus membantu orang tua dalam mendidik dan
mengawasi kegiatan anak sehari – hari.
Peranan
guru dalam pengembangan pendidikan karakter di sekolah yang berkedudukan
sebagai katalisator atau teladan, inspirator, motivator, dinamisator, dan
evaluator. Dalam berperan sebagai katalisator, maka keteladanan seorang guru
merupakan faktor mutlak dalam pengembangan pendidikan karakter peserta didik
yang efektif, karena kedudukannya sebagai figur atau idola yang digugu dan
ditiru oleh peserta didik. Peran sebagai inspirator berarti seorang guru harus
mampu membangkitkan semangat peserta didik untuk maju mengembangkan potensinya.
Peran sebagai motivator, mengandung makna bahwa setiap guru harus mampu
membangkitkan spirit, etos kerja dan potensi yang luar biasa pada diri peserta
didik. Peran sebagai dinamisator, bermakna setiap guru memiliki kemampuan untuk
mendorong peserta didik ke arah pencapaian tujuan dengan penuh kearifan, kesabaran,
cekatan, cerdas dan menjunjung tinggi spiritualitas. Sedangkan peran guru
sebagai evaluator, berarti setiap guru dituntut untuk mampu dan selalu
mengevaluasi sikap atau prilaku diri, dan metode pembelajaran yang dipakai
dalam pengembangan pendidikan karakter peserta didik, sehingga dapat diketahui
tingkat efektivitas, efisiensi, dan produktivitas programnya.
BAB
III
PENUTUP
III.1. KESIMPULAN
Penanaman
nilai dan norma dapat dilakukan di dalam keluarga dalam hal ini peran orang
tualah yang akan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter yang diinginkan.
Selain keluarga, peran guru dalam lemaga formal juga cukup memiliki andil yang
besar dalam pengembangan karakter anak tingkat sekolah dasar.
Dengan
adanya kedekatan antara guru pendidikan moral dengan orangtua murid, orang tua
murid akan termotivasi untuk menjadi orang tua yang mau memperhatikan perilaku
moral anaknya, karena orang tua murid akan secara periodik ditanyai mengenai
perkembangan perilaku anaknya sehari – hari, jadi orang tua akan dianggap
berhasil turut mendidik anaknya ketika perilaku moral anak meningkat kearah
yang lebih baik namun orang tua juga akan dianggap tidak berhasil turut
mendidik anaknya ketika perilaku moral anak menurun. Oleh karena itu orang tua
murid akan memberikan yang terbaik untuk mewujudkan perilaku moral yang baik
untuk anaknya karena masing- masing orang tua murid tidak mau dianggap gagal
mendidik anaknya.
III.2. SARAN
Penulis
berharap makalah ini dapat memberikan pengetahuan bagi pembaca mengenai nilai
dan norma sebagai pembemtuk karakter anak tingkat sekolah dasar. Dan demi
penyempurnaan makalah, penulis membuka kritik yang konstruktif dari pembaca.
DAFTAR
PUSTAKA
Drs. S. Ichas Hamid
Al-Lamri, M. Pd. Dan Dra. Tuti Istianti Ichas, M. Pd. 2006. Pengembangan Pendidikan Nilai dalam
Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional.
Rukiyati, M. Hum., dkk.
2008. Pendidikan Pancasila.
Yogyakarta: UNY Press.
Drs. Syahrial, M.A.
2002. Pendidikan Pancasila. Jakarta
Barat: Ghalia Indonesia.
http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/03/integrasi-pendidikan-nilai-dalam-membangun-karakter-siswa-di-sekolah-dasar/
diakses pada hari Selasa, 16 Oktober 2012 pada pukul 17.45
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20111013164638AAdCPwU
diakses pada hari Selasa, 16 Oktober 2012 pada pukul 19.33
http://warokakmaly.blogspot.com/2011/06/pengertian-norma-dan-macamnya.html
oleh warok akmaly diakses pada hari Selasa, 16 Oktober
2012 pada pukul 19.27
http://www.google.co.id/tanya/thread?tid=20a6543bc8a5b39a
diakses pada hari Selasa, 16 Oktober 2012 pada pukul 19.24
http://www.google.co.id/tanya/thread?tid=20a6543bc8a5b39a
diakses pada hari Selasa, 16 Oktober 2012 pada pukul 18.26
http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/28/peranan-guru-dalam-pengembangan-pendidikan-karakter-di-sekolah/
diakses pada hari Selasa, 16 Oktober 2012 pada pukul 22.30
Jumat, 17 Agustus 2012
Selasa, 22 Mei 2012
22 mei 2012
TWICE!!!
hari itu kelasku mencetak 1 angka untuk kemenangan melawan ipa6 hahahaha. 1 gol ituuu, entah kenapa terasa sangan membanggakan :))))
mereka terlihat begitu senang.
#abu abu ><
hari itu kelasku mencetak 1 angka untuk kemenangan melawan ipa6 hahahaha. 1 gol ituuu, entah kenapa terasa sangan membanggakan :))))
mereka terlihat begitu senang.
#abu abu ><
Jumat, 04 Mei 2012
Big Day
it's big day!!!
hahahah bocah's birthday :)
today i learn many more of feeling that can change my life.
firstly, yeah i don't know much about the reality of life. i can't definited well about that word "like".
i say that i like someone but the reality i just feel comfort with him.
second, i can't feel that every teenager feel yet. i think "how late i'm" and i become confused with all problem.
then, i take a message to all my close friend that know about my problem. i gived them a question just about that problem "like".
BUT LET ME tHINK THAT BY MY OWN !
and i found the answer.
and the most important is "jangan tergesagesa untuk menyimpulkan sesuatu terutama masalah perasaan" :)
hahahah bocah's birthday :)
today i learn many more of feeling that can change my life.
firstly, yeah i don't know much about the reality of life. i can't definited well about that word "like".
i say that i like someone but the reality i just feel comfort with him.
second, i can't feel that every teenager feel yet. i think "how late i'm" and i become confused with all problem.
then, i take a message to all my close friend that know about my problem. i gived them a question just about that problem "like".
BUT LET ME tHINK THAT BY MY OWN !
and i found the answer.
and the most important is "jangan tergesagesa untuk menyimpulkan sesuatu terutama masalah perasaan" :)
02.05.12
Jumat, 27 April 2012
Langganan:
Postingan (Atom)






